Pemimpin Itu Adalah Teladan

Satu panutan itu lebih efisien dari seribu saran. Dan, lisan tindakan itu lebih pintar dibanding lisan pengucapan. Satu contoh keteladanan dari Ali bin Abi Thalib memperlihatkan begitu keteladanan itu benar-benar efisien membuat pranata sosial yang dicita-citakan Islam.

Pemimpin Itu Adalah Teladan

Syahdan, di suatu hari Aqil tiba ke Ali bin Abi Thalib, dia menyongsong senang kehadiran si kakak. Saat datang waktu makan malam, Aqil tidak menyaksikan apapun di atas meja selainnya roti dan garam. la kaget menyaksikan realita itu karena kehadirannya untuk minta dana untuk Ali untuk tutupi hutangnya.

Ali berbicara, “Nantikan sesaat, saya akan ambilkan harta punyaku.” Aqil mulai kecewa dan berbicara, “Tidakkah Baitul Mal berada di tanganmu? Kenapa kamu memberikan dari harta punyamu sendiri?”

Beliau menjawab, “Jika kau ingin, ambilah pedangmu dan saya akan ambil pedangku, lalu kita keluar bersama ke arah teritori Hairah yang ada beberapa pedagang kaya, kita masuk rumah salah seorang pada mereka dan kita mengambil harta kekayaannya.”

Aqil menampik dan berbicara, “Memang saya tiba untuk mencuri!”. Ali juga menjawab, “Mengambil harta kekayaan seorang pada mereka itu tetap lebih bagus dibanding kamu mengambil harta punya semua golongan Muslimin.” Demikian panutan kepimpinan Ali bin Abi Thalib.

Untuk capai derajat yang tinggi dalam soal keteladanan, Allah SWT menyarankan ke kita selalu untuk berdoa,

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan yang menjadi penenang hati bagi kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan [25]: 74)

Al-Qurthubi menjelaskan bila seorang mempunyai istri yang terkumpul kepadanya karakter-sifat terpuji, seperti pintar jaga kesucian, halus, patuh ke suami, atau mempunyai anak yang patuh ke Allah dan berbakti ke ke-2 orang tuanya, karena itu hatinya tidak tertarik kembali untuk melirik wanita atau anak seseorang. Itu yang disebutkan dengan “penenang hati”, yang cuman dapat diraih jika apa yang dipunyainya itu mendapatkan karunia dari Allah.

Adapun tujuan “imam untuk beberapa orang yang bertakwa”, yaitu jadi panutan untuk mereka dalam soal kebaikan. Seorang tidak menjadi panutan yang bagus untuk seseorang terkecuali dia sudah melakukan perbuatan baik ke seseorang dan bertakwa ke Allah.

Keterkaitan ketakwaan dan kepimpinan di sini diterangkan oleh Ibrahim an-Nakha’i, jika orang Muslim yang bertakwa tidak berkeinginan minta kepimpinan ke Allah, tapi berharap panutan yang bagus dari-Nya. Karenanya keteladanan, kepimpinan itu akan tiba sendirinya.

 

Pemimpin Itu Adalah Teladan

You May Also Like

About the Author: Lenterakecil-NET

Sekedar berbagi inspirasi, motivasi, serta pengetahuan dan informasi melalui internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *