Penggunaan Majas Pertentangan dan Majas Sindiran

Majas adalah gaya bahasa yang digunakan oleh penulis untuk menyampaikan sebuah pesan secara imajinatif dan kias, supaya pembaca mendapat efek dari pemakaian bahasa itu. Biasanya, efek yang ditimbulkan lebih ke arah emosional terkait sifat majas yang berupa kiasan.

Majas Pertentangan dan Majas Sindiran

Penggunaan Berbagai Macam Majas Pertentangan dan Majas Sindiran

Majas dapat dibagi menjadi empat kelompok. Kali ini kita akan membahas tentang majas pertentangan dan majas sindiran.

Majas Pertentangan

Majas pertentangan menggunakan gaya bahasa dengan kata-kata kiasan yang bertentangan dengan maksud asli yang dituliskan dalam suatu kalimat. Ada beberapa majas yang termasuk ke dalam majas pertentangan, sebagai berikut:

1. Litotes

Majas ini merupakan majas yang berkebalikan dari hiperbola yang berlebihan. Litotes memiliki tujuan untuk merendahkan diri, walaupun kenyataannya adalah yang sebaliknya.

Contoh: Selamat datang di gubuk kami yang sederhana ini. (Gubuk bisa diartikan sebagai rumah).

2. Antitesis

Bertujuan untuk memadukan kata yang maknanya bertentangan.

Contoh: Lagu Sheila on 7 disukai kalangan tua-muda.

3. Paradoks

Majas ini membandingkan fakta atau situasi sebenarnya dengan situasi yang berkebalikannya.

Contoh: Di dalam keramaian, aku masih merasa sepi.

4. Kontradiksi Interminis

Majas ini menyangkal ujaran yang sebelumnya telah disampaikan. Biasanya kalimat itu diikuti dengan konjungsi seperti hanya saja atau kecuali.

Contoh: Masyarakat Indonesia semakin sejahtera, kecuali mereka yang hidup di pulau-pulau kecil.

Majas Sindiran

Berbeda dengan majas pertentangan, majas sindiran merupakan kata-kata kiasan yang tujuannya menyindir perilaku seseorang atau kondisi. Majas sindiran terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Ironi

Majas ironi menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada. Tidak seperti litotes yang fungsinya untuk merendah, ironi justru menggunakan kata-kata bertentangan untuk menyindir seseorang.

Contoh: Kamarmu rapi sekali, aku sampai sulit memilih bagian lantai mana yang bisa kuinjak.

2. Sinisme

Bertujuan untuk menyampaikan sindiran secara langsung, tanpa ada perumpamaan apapun.

Contoh: Pak Bonar suaranya keras sekali kalau berbicara, sehingga telinga saya sampai berdenging.

3. Sarkasme

Majas ini merupakan majas sindiran yang paling kasar dibandingkan dengan yang lainnya.

Contoh: Makanan apa ini, rasanya seperti sampah!

You May Also Like

About the Author: Lenterakecil-NET

Sekedar berbagi inspirasi, motivasi, serta pengetahuan dan informasi melalui internet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *